MataBicara.co, SURABAYA – Forum Zakat (FOZ) Jawa Timur terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) amil zakat. Salah satunya melalui kegiatan Leader Insight bertema The Future of Zakat Institutional yang digelar di Kantor BSI Maslahat Regional VIII Jawa Timur, Surabaya, Rabu (29/7).
Kegiatan tersebut menghadirkan mantan Ketua Forum Zakat Nasional periode 2015–2018, Nur Efendi, sebagai narasumber utama. Lebih dari 50 peserta dari berbagai Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) anggota FOZ Jawa Timur mengikuti forum tersebut.
Ketua FOZ Jawa Timur, Ziyad, mengatakan bahwa penguatan kapasitas amil menjadi kebutuhan mendesak agar lembaga zakat mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Menurutnya, peningkatan kompetensi SDM merupakan fondasi utama dalam memperkuat tata kelola lembaga sekaligus memperluas dampak sosial yang dihasilkan.

“Kegiatan ini sangat penting untuk meng-upgrade para amil agar lembaga zakat terus tumbuh, saling menguatkan, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam paparannya, Nur Efendi membahas arah perkembangan kelembagaan zakat melalui materi The Future of Zakat Institutional: Tantangan, Peluang, dan Strategi Filantropi Zakat 2025–2030 serta Cakrawala 25 Tahun ke Depan. Ia menyebut Indonesia memiliki potensi dana filantropi mencapai Rp664 triliun, yang berasal dari zakat, infak, sedekah, wakaf (ZISWAF), dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga berbagai dana keagamaan lainnya.
Potensi tersebut, menurutnya, harus dioptimalkan melalui tata kelola yang semakin profesional dan kolaboratif sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Nur Efendi juga menegaskan bahwa lembaga zakat tidak lagi cukup dipandang sebagai organisasi semata. Ia mengajak seluruh insan zakat untuk membangun cara pandang baru dengan melihat zakat sebagai sebuah ekosistem yang melibatkan banyak pihak.
“Dalam ekosistem, setiap aktor memiliki peran berbeda, tetapi bergerak menuju tujuan yang sama, yakni menghubungkan kebaikan dari muzaki kepada mustahik secara amanah, profesional, dan berdampak,” jelasnya.
Di akhir sesi, ia menekankan bahwa masa depan pengelolaan zakat akan sangat ditentukan oleh kemampuan membangun kepercayaan dan jejaring kolaborasi.
“Bukan siapa yang besar, tetapi siapa yang terhubung. Trust, transparansi, dan network akan menjadi faktor penentu keberhasilan ekosistem zakat Indonesia, baik hari ini, lima tahun ke depan, maupun dua puluh lima tahun mendatang,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, FOZ Jawa Timur berharap seluruh lembaga amil zakat mampu memperkuat kepemimpinan, memperluas kolaborasi antarlembaga, serta bersama-sama membangun ekosistem filantropi Islam yang adaptif, profesional, dan semakin berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.












