MataBicara.co, BLORA – Polemik dugaan pungutan liar dalam program unggulan Bupati Blora yaitu Sekolah Sisan Ngaji (SSN) disalah satu sekolah di Blora viral. Lantaran di SMP Negeri 2 Tunjungan itu diduga ada iuran liar siswa setiap hari Selasa untuk memberikan gaji kepada guru yang mengajar SSN.
Viralnya iuran tersebut menjadi kontroversi setelah pihak-pikak terkait saling menyangkal atas munculnya iuran itu yang diduga merupakan pungutan liar.
Endang Sri Wahyuni, Kepala Sekolah SMPN 2 Tunjungan, menyampaikan bahwa iuran tersebut berasal dari salah satu gagasan guru yang mengajar di sekolahan itu.
“Demi Allah, yang menyampaikan seperti itu Guru Agama. Pak Slamet mendatangi saya dan bilang Pak Farid ada gagasan begini-begini,” ujar Endang Selasa (21/4/2026).
Sebelumnya guru agama Farid telah mengonfirmasi bahwa ide iuran itu justru muncul dari kepala sekolah. Hal ini mengindikasikan adanya aksi saling lempar tanggung jawab atau miskomunikasi internal yang cukup serius.
Dugaan Adanya Tekanan
Menanggapi pengingkaran gurunya itu, Endang menduga bawahannya tersebut sedang berada dalam tekanan atau merasa takut untuk berkata jujur.
“Kemungkinan Pak Farid menyampaikan seperti itu karena ada sedikit rasa tekanan atau takut untuk bertanggung jawab,” tambah Endang.
Meski demikian, ia menyatakan siap mengambil alih tanggung jawab sepenuhnya jika guru yang bersangkutan tetap tidak mau mengakui gagasan tersebut.
Keterangan Guru Agama yang Disebutkan
Menanggapi kabar viral mengenai iuran sebesar Rp1.000 di lingkungan sekolah, Farid Mahmud, seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI), memberikan klarifikasi tegas. Ia membantah bahwa dirinya adalah inisiator di balik pungutan yang menjadi perbincangan di media sosial tersebut.
Farid menjelaskan bahwa prinsipnya justru berseberangan dengan kabar yang beredar. Ia mengaku sangat menjaga agar dana infaq rutin hari Jumat tidak disalahgunakan atau dicampur dengan keperluan lain seperti honor SSN.
“Malah justru saya itu yang tidak mau kalau infaq hari Jumat itu dicampur untuk honor SSN. Makanya dibuat jadwal sendiri untuk SSN,” ungkap Farid.
Sementara itu ketika ditanya mengenai asal muasal iuran yang viral tersebut berasal dari usulannya, ia menjawab singkat dan tegas, bahwa gagasan itu bukan darinya.
“Bukan dari saya,” ucapnya.
Terkait asal-usul iuran yang ditarik setiap hari Selasa, Farid menjelaskan bahwa hal itu merupakan hasil keputusan bersama dalam forum resmi. Ia juga membenarkan bahwa pihak kepala sekolah juga mengetahui mekanisme tersebut.
“Kan kalau tidak salah itu dulu ada rapat wali murid sama komite itu yang mencetuskan ada semacam sosialisasi akan ada iuran SSN itu, nggih dari itu (Kepala Sekolah),” ujarnya.
Dinas Pendidikan Lakukan Peninjauan
Masalah ini telah sampai ke telinga otoritas pendidikan setempat. Farid mengonfirmasi bahwa pihak Dinas Pendidikan telah mendatangi sekolah untuk melakukan tindak lanjut.
“Kemarin sudah ada pembinaan dari Dinas Pendidikan. Kemarin ada Pak Dian selaku Kasi Pembinaan, kemudian ada pengawas, kemudian ada stafnya juga kemarin ke sini,” jelasnya.
Di akhir percakapan, Farid kembali menegaskan posisinya dengan menyangkal keterlibatan personal dalam inisiasi iuran tersebut.
“Nggih, saya tidak, saya tidak,” pungkasnya.












