Karhutla Jateng Capai 232 Kejadian, Pemerintah Ingatkan Warga Waspada Kemarau Ekstrem

MataBicara.co, SEMARANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman yang perlu diwaspadai masyarakat, terutama di tengah kondisi musim kemarau yang semakin panas di Jawa Tengah.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, tercatat sebanyak 232 kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 23 Agustus 2026. Jumlah tersebut tersebar di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengatakan sejumlah daerah masih menghadapi kejadian karhutla. Laporan terbaru di antaranya berasal dari Kabupaten Wonogiri dan Kudus.

“Kebakaran hutan dan lahan memang ada di beberapa tempat. Kemarin saya dapat laporan dari Wonogiri dan Kudus,” kata Taj Yasin seusai mendampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Grhadika Bhakti Praja Semarang, Senin (24/8/2026).

Taj Yasin mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan bersama-sama melakukan langkah pencegahan agar kebakaran tidak meluas ke wilayah lain. Menurutnya, kondisi kemarau yang semakin ekstrem meningkatkan potensi terjadinya kebakaran.

“Kita harus antisipasi, kita harus menjaga betul. Kalau merokok jangan buang puntung rokok asal lempar, karena bisa menyebabkan kebakaran,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mencatat hingga 23 Agustus 2026 terdapat 547 kejadian kebakaran. Jumlah tersebut terdiri atas 232 kejadian karhutla serta 315 kejadian kebakaran gedung dan permukiman.

Bergas mengatakan, jumlah karhutla pada Januari hingga 23 Agustus 2026 meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2025. Kenaikannya mencapai sekitar 700 persen, dengan tren peningkatan terjadi seiring masuknya musim kemarau pada Juni, Juli, dan Agustus.

Dari 232 kejadian karhutla tersebut, dampak kebakaran meliputi 194 hektare lahan, 213 hektare hutan, serta 2,17 hektare kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Total taksiran kerugian akibat kejadian tersebut mencapai sekitar Rp23 miliar.

Sepuluh daerah dengan jumlah kejadian karhutla tertinggi yakni Kabupaten Klaten sebanyak 31 kejadian, Sragen 30 kejadian, Sukoharjo 18 kejadian, Wonogiri 17 kejadian, Boyolali 16 kejadian, Blora 14 kejadian, Kabupaten Semarang 13 kejadian, Banyumas 10 kejadian, Kudus 10 kejadian, dan Kota Tegal delapan kejadian.

Menurut Bergas, kebakaran lahan didominasi area pertanian, khususnya lahan tebu dan semak belukar. Penyebab kebakaran diduga berkaitan dengan kelalaian manusia atau human error.

“Kebakaran lahan didominasi kebakaran lahan pertanian, khususnya tebu dan semak belukar. Penyebabnya diduga karena human error. Untuk lahan tebu biasanya untuk membersihkan selasar tebu saat panen,” jelas Bergas.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk meningkatkan upaya pencegahan sekaligus mengajak masyarakat lebih berhati-hati dalam beraktivitas di kawasan yang rawan kebakaran selama musim kemarau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *