Harga Minyak Rakyat Soko Blora: Selisih Hingga 14 Persen, 35 Tangki Sudah Disetorkan ke MCN

MataBicara.co, BLORA – Belum lama ini Sumur Minyak Rakyat di Desa Soko yang sudah legal melalui PT Mataram Connection Nusantara (MCN) kini pembagian keuntungan dalam penyaluran Minyak Rakyat kembali menjadi sorotan.

Berdasarkan pernyataan Mardi alias Pak Tua, yang merupakan pengurus Minyak Rakyat wilayah Soko, terdapat selisih harga yang cukup signifikan serta potongan biaya yang dibebankan hingga mencapai 14 persen dari harga dasar.

Saat dikonfirmasi Mardi menjelaskan rincian perhitungan harga yang berlaku saat ini, dimana ia menyampaikan bahwa harga yang telah ditetapkan oleh Pertamina sebelumnya yaitu Rp. 7.200.

“Pembagian hasilnya begini, kalau di harga jual 7.200 rupiah, perhitungannya sampai ke sini seharusnya 6.200 rupiah. Namun karena ada pemotongan, saya tidak mau pusing memikirkan hitungan rumit, saya minta pembayaran tunai saja,” ujar Mardi Senin (8/6/2026).

Dengan sistem pembayaran tunai tersebut, pihaknya hanya menerima sebesar 6.050 rupiah per liter. Padahal, harga rata-rata penyerapan ke Pertamina tercatat hanya di angka 5.800 rupiah.

Dari selisih angka tersebut, Mardi menyimpulkan adanya pemotongan atau pengambilan keuntungan oleh pihak Mataram sekitar 14 persen dari nilai barang.

Mardi juga menegaskan bahwa tidak ada pungutan rutin bulanan yang dibebankan kepada pengurus atau penyalur. Pemotongan biaya hanya terjadi jika ada keperluan khusus, misalnya untuk kepentingan media, yang harus diajukan melalui proposal resmi.

“Uang yang kami keluarkan itu benar-benar ada bukti dan laporannya,” tegasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa seluruh alur penyaluran sudah memiliki struktur dan aturan main yang jelas, sehingga pihaknya berani bertanggung jawab atas setiap transaksi yang terjadi.

“Semuanya sudah ada struktur dan rencananya masing-masing. Kalau tidak ada aturan demikian, kami tidak akan berani menjalankannya,” tambahnya.

Ditanya mengenai jumlah pasokan yang sudah disetorkan ke MCN, Mardi mengaku hingga saat ini totalnya telah mencapai sekitar 35 tangki.

Selisih harga dan besaran pemotongan yang terungkap ini menjadi perhatian, mengingat program Minyak Rakyat sejatinya ditujukan agar masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Pihak terkait diharapkan dapat menelusuri alur distribusi ini guna memastikan keuntungan dapat dinikmati secara adil oleh seluruh pihak, mulai dari pengelola hingga konsumen akhir.

“Soale kan pun struktur. Niku nek mboten enten ngoten kan mboten wantun. Soale kan pun enten plot-plote piyambak-piyambak,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *