Idul Adha, Distannak Jateng Ingatkan Cara Tangani Daging Kurban agar Tetap ASUH

MataBicara.co, SEMARANG – Menjelang Hari Raya Idul Adha, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Provinsi Jawa Tengah kembali mengingatkan seluruh masyarakat dan panitia penyembelihan untuk benar-benar memperhatikan cara menangani hewan kurban maupun dagingnya. Tujuannya jelas, agar daging yang nanti diterima warga benar-benar aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) saat dikonsumsi.

Menurut drh Diana Dwi Ariantie dari Pokja Kesehatan Masyarakat Veteriner Distannak Jateng, tempat paling ideal untuk memotong hewan kurban sebenarnya ada di Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R). Di sana, segala fasilitas dan standar kebersihan sudah terjamin.

Namun, mengingat kondisi di lapangan yang beragam, pemerintah memang membolehkan penyembelihan dilakukan di tempat lain seperti di halaman masjid, balai desa, atau lokasi yang disepakati bersama. Tetapi, ada satu syarat mutlak: prosesnya harus tetap mengikuti aturan kesehatan dan kesejahteraan hewan.

“Memang yang paling benar itu di RPH. Tapi di luar sana kan kondisinya berbeda-beda, jadi ada aturan yang mengizinkan di tempat lain. Yang penting, kaidah kesehatannya jalan dan hewannya diperlakukan baik, tidak disakiti atau dibuat stres,” ujar Diana saat ditemui di lingkungan Kantor Distannak, Ungaran, Selasa (26/5).

Ia menjelaskan, cara kita memperlakukan hewan sebelum disembelih ternyata berpengaruh besar pada kualitas dagingnya nanti. Hewan yang merasa tertekan, takut, atau stres biasanya akan menghasilkan daging yang warnanya jadi lebih gelap, teksturnya berubah, dan rasanya pun bisa kurang enak.

Karena itu, ajaran menyembelih dengan cara ihsan atau sebaik-baiknya bukan sekadar aturan agama, tapi juga berkaitan langsung dengan mutu daging.

Satu hal lagi yang sering terlewat: jangan pernah melakukan pengulitan atau pengelupasan kulit hewan langsung di atas tanah. Debu, kotoran, dan bakteri di tanah akan langsung menempel dan mengontaminasi daging.

Diana menyarankan, sebaiknya siapkan balok kayu, papan, atau pengait agar bangkai hewan terangkat dan tidak bersentuhan sama sekali dengan permukaan tanah.

Bagian dalam atau jeroan juga harus dipisah dengan cermat. Jeroan merah seperti hati, paru, limpa, dan ginjal harus ditaruh terpisah dari jeroan hijau yaitu usus dan lambung.

“Usus dan lambung kan tempat kotoran, risiko bakteri tinggi. Kalau dicampur, nanti bakteri pindah ke organ lain yang bersih,” jelasnya.

Untuk pembungkus atau wadah, gunakan bahan yang aman untuk makanan, misalnya plastik bening yang tebal atau besek. Dan satu hal penting: jangan gabungkan daging sapi dengan daging kambing dalam satu wadah yang sama.

Kecepatan penyaluran juga jadi kunci utama agar daging awet. Diana menegaskan, mulai dari hewan disembelih sampai daging dibagikan ke tangan warga, waktu idealnya hanya sekitar 4 sampai 5 jam saja. Lewat dari itu, risiko daging rusak atau berubah rasa makin besar karena bakteri berkembang biak sangat cepat.

“Bakteri itu kerjanya nggak tidur. Kalau kelamaan ditumpuk-tumpuk sebelum dibagikan, dagingnya nanti malah tidak enak dimakan. Jadi harus cepat disalurkan,” tambahnya.

Banyak orang juga masih salah langkah saat akan menyimpan daging di kulkas. Kebiasaan langsung mencuci daging sebelum dimasukkan ke dalam lemari pendingin ternyata kurang tepat. Air yang menempel malah bikin bakteri lebih mudah tumbuh dan daging jadi lebih cepat basi. Cukup lap daging sampai kering, potong-potong sesuai porsi sekali masak, baru lalu disimpan di frezeer.

“Kalau besok mau dimasak, pindahkan dulu daging beku ke kulkas bagian bawah semalaman. Pencairan esnya pelan-pelan saja biar tetap aman dan kualitasnya terjaga,” sarannya.

Mengenai isu penyakit mulut dan kuku (PMK) maupun penyakit kulit nodular (LSD) yang sempat meresahkan, Diana memastikan kedua penyakit itu tidak menular ke manusia. Daging hewan yang pernah terpapar pun tetap aman dikonsumsi, asal diolah dengan benar. Khusus bagian kepala, kaki, dan buntut, disarankan direbus dalam air yang benar-benar mendidih selama sekitar 30 menit.

Terakhir, Diana berpesan kepada seluruh panitia kurban agar bekerja secara beriringan. Begitu hewan disembelih, proses selanjutnya harus segera dilakukan, jangan ditumpuk diam terlalu lama. Semakin cepat daging ditangani dan sampai ke masyarakat, semakin aman dan enak daging itu dikonsumsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *