Penuh Makna, Anak-Anak dan Remaja Hidupkan Visualisasi Jalan Salib di Gereja Pius X Blora

MataBicara.co, BLORA – Langkah-langkah kecil yang berjalan perlahan itu sarat akan makna mendalam. Di halaman Gereja Katolik Paroki Santo Pius X Blora, anak-anak dan remaja tampil memanggul peran penting untuk menghidupkan kembali kisah jalan penderitaan Yesus Kristus dalam rangkaian perayaan Kamis Putih, Kamis (2/4) sore.

Suasana terasa hening dan khidmat. Seluruh umat yang hadir mengikuti setiap perhentian dengan penuh penghayatan. Berbeda dengan biasanya, visualisasi Jalan Salib kali ini digelar secara sederhana namun sangat menyentuh hati, karena seluruh tokoh diperankan langsung oleh generasi muda Katolik.

Tanpa panggung yang megah, kekuatan pementasan ini terletak pada penghayatan para pemeran cilik dan remaja tersebut. Ekspresi wajah mereka yang polos, kadang terlihat gugup, justru menghadirkan kesan kejujuran yang sangat mengena di hati para penonton.

Romo Benediktus Prima Novianto menjelaskan, konsep ini sengaja dihadirkan untuk memberikan pengalaman iman yang lebih dalam, terutama bagi generasi muda.

“Tahun lalu visualisasi dilakukan di Goa Maria Wireskat, Desa Sendangharjo. Tahun ini kami buat di lingkungan gereja agar ada variasi, tidak monoton,” ujarnya.

Perubahan lokasi ini bukan sekadar teknis semata, melainkan agar umat dapat merasakan suasana yang berbeda dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari di lingkungan gereja.

Seluruh pemeran, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang muda, telah melakukan latihan selama kurang lebih satu bulan. Proses latihan tersebut dinilai sangat penting, bukan hanya untuk menyempurnakan pementasan, tetapi juga untuk membangun pemahaman iman.

“Anak-anak diajak menghayati bagaimana Yesus menderita demi menyelamatkan manusia. Mereka tidak hanya memainkan peran, tapi mencoba merasakan maknanya,” imbuh Romo Benediktus.

Melalui keterlibatan langsung ini, anak-anak diajak belajar tentang nilai pengorbanan, kasih, dan makna keselamatan. Hal yang selama ini mungkin hanya didengar, kini mereka rasakan dan alami sendiri.

Tidak sedikit orang tua yang tampak terharu menyaksikan putra-putri mereka berperan. Sebagian merekam momen tersebut, sementara yang lain memilih menikmati setiap adegan dengan diam dan perasaan haru.

Bagi Romo Benediktus, inilah esensi sebenarnya dari kegiatan tersebut. Iman tidak hanya diajarkan lewat kata-kata, tetapi juga lewat pengalaman yang menyentuh hati.

“Dengan cara ini, anak-anak diajak bersyukur. Menyadari bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan yang diberikan secara cuma-cuma,” jelasnya.

Visualisasi jalan salib yang dihadiri umat dari berbagai wilayah di Kabupaten Blora ini pun berjalan lancar dan sukses.

“Kami bersyukur latihan sebulan ini bisa berjalan baik dan ditampilkan dengan lancar. Apalagi disaksikan langsung oleh orang tua mereka,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *