MataBicara.co, BLORA – Sejarah kelam tidak dikubur dalam lupa, melainkan dibaca dengan jernih agar tragedi dan perpecahan tidak terulang kembali. Pesan itulah yang dibawa dalam kegiatan “Mengenang G30S/PKI: September Hitam”, digelar Bidang Hikmah Politik Kebijakan Publik (HPKP) PK IMM Ibnu An-Nafis di Auditorium Kampus STAI Muhammadiyah Blora, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan diikuti sekitar 100 mahasiswa dari semester 1, 3, dan 5. Lebih dari sekadar mengenang peristiwa masa lalu, momen ini menjadi ruang refleksi untuk mendorong mahasiswa membaca sejarah secara kritis, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya persatuan, kemanusiaan, dan keutuhan bangsa.
Ketua Umum PK IMM Ibnu An-Nafis, Naufal Ibrahim, menyampaikan kegiatan ini diharapkan mampu membentuk kepekaan mahasiswa dalam memahami peristiwa masa lalu.
“Membuat mahasiswa, terutama mahasiswa STAIM, lebih peka dalam membaca dan memahami tentang tragedi yang lampau,” ujarnya.
Baginya, sejarah tidak boleh berhenti sekadar pada hafalan tanggal dan peristiwa. Mahasiswa perlu memaknai sejarah sebagai pengalaman bangsa yang memberi pelajaran bagi kehidupan masa kini.
Sementara itu, Kepala Bidang HPKP PK IMM Ibnu An-Nafis, Achmad Nur Munir, menegaskan G30S adalah babak kelam bangsa yang wajib dikenang dengan jernih.
“G30S adalah bagian kelam dalam sejarah Indonesia yang harus dikenang dengan jernih. Sejarah tidak untuk membangkitkan kebencian, tetapi untuk mengambil pelajaran agar persatuan, kemanusiaan, dan keutuhan bangsa tetap terjaga,” katanya
Ia menekankan mengenang sejarah bukan berarti mewariskan dendam. Masa lalu justru menjadi cermin agar generasi muda menjaga persatuan dan mencegah perpecahan kembali terjadi.
“Kita mengenang sejarah bukan untuk hidup dalam dendam, tetapi untuk memastikan tragedi dan perpecahan tidak kembali terulang. Dari masa lalu, kita belajar menjaga Indonesia dengan persatuan dan keberanian,” lanjutnya.
Di tengah arus informasi yang deras, kemampuan membaca sejarah secara kritis menjadi semakin penting. Narasi masa lalu bisa datang dari berbagai arah, sehingga mahasiswa perlu terbiasa memahami konteks serta memilah fakta dari tafsir.
Melalui kegiatan September Hitam, PK IMM Ibnu An-Nafis berupaya menjadikan sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan ruang belajar bagi generasi muda untuk menumbuhkan sikap kritis, semangat persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air.
Sebab masa lalu memang tak dapat diubah. Namun cara generasi kini belajar dari masa lalu, itulah yang akan menentukan bagaimana masa depan bangsa dijaga.












