Eco Candle: Olah Minyak Jelantah Jadi Peluang Usaha, Mahasiswa PPG UNNES Berdayakan Ibu PKK

MataBicara.co, SEMARANG – Minyak jelantah kerap dipandang sekadar limbah yang tak berguna, padahal jika dibuang sembarangan dapat mencemari tanah dan sumber air. Berangkat dari persoalan itu, mahasiswa PPG Calon Guru IPS Rombel 3 Universitas Negeri Semarang (UNNES) menghadirkan solusi kreatif: mengolah limbah tersebut menjadi lilin aromaterapi bernilai jual.

Melalui pelatihan bertajuk Eco Candle, mereka membekali ibu-ibu PKK Desa Muntal RT 06/RW 05, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, dengan keterampilan daur ulang minyak jelantah. Kegiatan berlangsung Minggu, 13 September 2026.

Ketua kegiatan, Risqi Gilang Maulana, menjelaskan program ini sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Selama ini, banyak ibu rumah tangga belum mengetahui bahwa limbah dapur bisa diubah menjadi produk bernilai tambah.

“Minyak jelantah yang dikumpulkan Bank Sampah sebenarnya bisa menjadi produk bernilai tambah. Namun, banyak ibu rumah tangga belum memiliki keterampilan mengolahnya. Melalui pelatihan Eco Candle ini, kami ingin memberdayakan ibu-ibu agar punya keterampilan baru yang bermanfaat dan berpotensi menjadi peluang usaha,” ujar Risqi.

Kegiatan dimulai dengan penyelarasan bersama pengurus Bank Sampah dan PKK, menyusun jadwal, menyiapkan bahan baku minyak jelantah hasil himpunan warga, serta menata seluruh peralatan agar pelatihan berjalan lancar.

Sebelum praktik, peserta mengikuti sesi edukasi tentang dampak buruk pembuangan minyak jelantah bagi lingkungan, manfaat pengelolaan limbah, hingga peluang ekonomi dari daur ulang.

Selanjutnya, ibu-ibu langsung mempraktikkan seluruh tahapan: penyaringan minyak jelantah, pencampuran bahan, pencetakan, pemberian aroma, hingga pengemasan. Mahasiswa PPG mendampingi peserta sepanjang proses sebagai fasilitator.

Untuk mengubah minyak cair menjadi lilin padat, digunakan bahan sederhana: parafin sebagai pengeras, arang aktif untuk menghilangkan bau, pewarna metalik, dan minyak atsiri sebagai pengharum. Sentuhan hiasan manik-manik membuat produk tampil lebih menarik dan layak jual.

Kegiatan ini disambut antusiasme tinggi oleh peserta, termasuk Ketua PKK setempat, Rona Ery Kusuma.

“Kami jadi tahu bahwa minyak jelantah tidak harus dibuang. Bisa diolah menjadi lilin aromaterapi yang cantik dan berpotensi dijual,” ungkapnya.

Program ini membuktikan bahwa limbah rumah tangga bukan sekadar sampah jika dikelola dengan tepat, dapat berubah menjadi sumber penghasilan. Bagi ibu-ibu PKK Desa Muntal, Eco Candle bukan sekadar pelatihan, melainkan bekal keterampilan baru yang dapat dikembangkan menjadi usaha rumahan. Kolaborasi antara mahasiswa, Bank Sampah, dan PKK ini diharapkan terus berlanjut dan memberi manfaat nyata yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *